MENYELAMI SAMUDRA MA’RIFAT: MUJAHADAH, RAHASIA RUH, DAN CAHAYA KESALEHAN

AL MAWADDAH — Malam itu, suasana di ruang utama Pondok Pesantren Al-Mawaddah, Bareng Tenes, terasa begitu khidmat. Lantunan tahlil dan kalimah thayyibah yang dikumandangkan oleh Jamaah Masjid Keramat Agung masih menyisakan getaran spiritual di dada. Di hadapan para jamaah yang duduk bersila, KH. Dr. Dahlan Thamrin, M.Ag. membuka ceramahnya dengan untaian nasihat yang menyentuh inti terdalam dari tujuan hidup seorang mukmin: Mujahadah.

Secara harfiah, ungkap beliau, mujahadah berarti berjuang dengan sungguh-sungguh. Namun, dalam kacamata tasawuf falasafi dan amali yang kerap diwedarkan oleh beliau, mujahadah adalah sebuah regulasi spiritual total untuk memerangi musuh terbesar manusia, yaitu hawa nafsu diri sendiri (jihadun nafs). Kiai Dahlan Thamrin menegaskan bahwa mujahadah bukan sekadar berdiam diri di atas sajadah atau mengasingkan diri dari hiruk-pikuk duniawi. Mujahadah sejati adalah sebuah kesadaran aktif di mana setiap tarikan napas dan derap langkah manusia disandarkan semata-mata untuk menggapai rida Alloh SWT.
Sebagai bentuk aktualisasi mujahadah dalam kehidupan sehari-hari, Kiai Dahlan Thamrin memberikan analogi dan contoh nyata yang sangat dekat dengan realitas jamaah: bekerja mencari nafkah. Beliau menekankan bahwa menjemput rezeki yang halal demi menafkahi keluarga, menjaga kehormatan diri agar tidak meminta-minta, serta berkontribusi bagi kemaslahatan umat adalah bentuk jihad yang luar biasa besar nilainya di sisi Allah.

Lebih jauh, beliau menyampaikan sebuah kabar gembira yang bersumber dari janji Rasulullah SAW. Apabila seorang mukmin meninggal dunia di tengah-tengah ia sedang konsisten bekerja mencari nafkah yang halal, maka kematiannya dihitung sebagai mati syahid. Status syahid di sini adalah syahid akhirat, sebuah kedudukan mulia di mana sang hamba akan langsung mendapatkan ampunan total, dilapangkan kuburnya, dan dikumpulkan bersama para nabi serta shalihin di hari kiamat.

Anatomi Spiritual Manusia – Perbedaan Ruh Qudsi dan Ruh Jasmani

Memasuki pembahasan yang lebih mendalam, Kiai Dahlan Tamrin membawa jamaah Masjid Keramat Agung untuk menyelami rahasia penciptaan manusia. Untuk memahami mengapa manusia diperintahkan bermujahadah, kita harus terlebih dahulu mengenali struktur ruhani yang menggerakkan fisik kita. Beliau membedakan entitas metafisik manusia menjadi dua komponen utama: Ruh Jasmani (Ruh Hewani) dan Ruh Qudsi (Ruh Ruhani/Rabbani).

Kiai Dahlan Thamrin menjelaskan bahwa ruh jasmani adalah tempat bersemayamnya sifat-sifat kehewanan seperti rasa lapar, nafsu seksual, amarah, egoisme, dan ketakutan akan kemiskinan. Jika manusia hidup hanya dikendalikan oleh ruh jasmani, maka derajatnya akan turun setara atau bahkan lebih rendah daripada binatang, karena hidupnya hanya berputar pada urusan perut, kepuasan biologis, dan kekuasaan materi semata.

Sebaliknya, Ruh Qudsi adalah entitas luhur yang ditiupkan langsung oleh Alloh SWT ke dalam diri manusia. Ruh ini bersifat suci, tidak kasat mata, dan tidak memiliki keterikatan dengan materi duniawi. Ruh Qudsi adalah substansi sejati dari kemanusiaan.
Kiai Dahlan Thamrin menguraikan bahwa karakteristik utama dari Ruh Qudsi adalah kerinduannya yang abadi kepada sang Pencipta. Ia adalah sumber dari sifat-sifat ketuhanan di dalam diri manusia, seperti cinta kasih, kebijaksanaan, kejujuran, keadilan, dan ketenangan spiritual. Ruh Qudsi bertindak sebagai kompas batin yang selalu menarik manusia untuk kembali kepada kesucian, melakukan kebaikan, dan merenungkan kebesaran Allah.

Pancaran Cahaya Orang Soleh

Setelah memetakan struktur ruhani, Kiai Dahlan Thamrin kemudian menjelaskan apa yang terjadi ketika seorang hamba berhasil memenangkan Ruh Qudsi-nya melalui mujahadah yang konsisten. Hamba tersebut akan naik maqam-nya menjadi Orang Soleh. Orang soleh bukan sekadar orang yang rajin salat, melainkan mereka yang seluruh dimensi lahir dan batinnya telah selaras dengan kehendak Allah SWT.
Salah satu tanda paling otentik dari orang soleh adalah adanya Cahaya yang terpancar dari diri mereka. Kiai Dahlan Thamrin menegaskan bahwa cahaya orang soleh ini adalah cahaya spiritual yang dihujamkan Alloh ke dalam hati mereka, lalu bersemayam di wajah, ucapan, dan perilaku mereka.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kekasih-kekasih Allah atau orang soleh adalah mereka yang “apabila dipandang wajahnya, maka manusia akan langsung teringat kepada Allah.” Inilah hakikat dari cahaya orang soleh. Ketika kita berada di dekat mereka, ada getaran kedamaian yang masuk ke dalam dada kita. Rasa gelisah berganti menjadi tenang, pikiran kotor sirna, dan muncul dorongan yang kuat di dalam hati kita untuk bertobat serta meningkatkan ibadah. Cahaya ini muncul karena hati orang soleh telah bersih dari daki-daki duniawi melalui proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Karena hatinya bersih, maka hati tersebut bertindak bagaikan cermin yang jernih, memantulkan asma-asma Allah dan keindahan akhlak nubuwah. Ucapan mereka mengandung hikmah yang menembus relung hati pendengarnya, tatapan mata mereka penuh dengan kasih sayang, dan kehadiran mereka di suatu majelis laksana oase di tengah padang pasir yang gersang. Kiai Dahlan Thamrin mengingatkan jamaah Masjid Keramat Agung agar senantiasa mencari, berkumpul, dan meneladani orang-orang soleh ini agar hati kita yang gelap perlahan-lahan ikut terangi oleh pantulan cahaya kesalehan mereka.

Keberkahan Bersalaman dan Bertabaruk dengan Orang Soleh

Pada bagian akhir ceramahnya di Pondok Pesantren Al-Mawaddah, Kiai Dahlan Thamrin mengupas sebuah tradisi amaliyah yang sangat erat dengan kultur warga Nahdliyin, yaitu bersalaman dan bertabaruk (mencari berkah) dengan orang soleh. Beliau menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan sarana tawassul dan mahabbah (wujud cinta) kepada para solihin yang memiliki landasan kuat dalam syariat Islam.
Ketika seorang mukmin bersalaman dengan orang soleh dengan rasa hormat dan cinta karena Alloh, terjadi sebuah transmisi spiritual. Tangan orang soleh yang setiap harinya digunakan untuk bertasbih, memegang kitab suci, dan menengadah meminta ampunan, membawa bekas keberkahan ibadah. Bersalaman dengan mereka dengan cara mencium tangannya—bukan untuk menyembah personalnya, melainkan menghormati ilmu dan ketakwaannya—adalah jalan mengalirkan energi positif dan berkah ke dalam diri kita. Sebagai contoh kecil di Masjid Keramat agung adalah tradisi salaman dengan Kiai Dahlan Thamrin seusai sholat berjamaah apabila beliau hadir di masjid.

Setelah tausiah berakhir, acara dilanjutkan dengan ramah tamah untuk mempererat silaturahmi antar jamaah. Sebelum meninggalkan pondok Al Mawaddah, para jamaah bersalaman cium tangan dengan Kiai Dahlan Thamrin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

Khutbah Jumat Masjid Keramat Agung 7 Agustus 2026: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan dan Kenyamanan dalam BeribadahKhutbah Jumat Masjid Keramat Agung 7 Agustus 2026: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan dan Kenyamanan dalam Beribadah

Khatib: Ustad Samsul ArifinBilal: Ustad Khalik Ahmadi KERAMAT AGUNG — Ustad Samsul Arifin mengawali khutbahnya dengan mengajak para jamaah untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Alloh SWT berupa hidayah dan