Khutbah Jum’at 26 Juni 2026 Masjid Keramat Agung: Setiap Kita adalah Seorang Pemimpin sekaligus yang Dipimpin

Khatib: KH. Muhammad Rifa’i

Bilal: Ustad Saiful Bakri

KERAMAT AGUNG — Di awal khutbahnya, setelah berwasiat tentang iman dan takwa, khatib menyampaikan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan pasti membutuhkan pertolongan orang lain. Karena manusia sebagai makhluk sosial, maka dalam kehidupannya di dalam masyarakat atau lingkungannya tentunya diperlukan seorang pemimpin yang bisa memotivasi, mendorong, dan membawa kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan.

Kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar tahta, jabatan, atau fasilitas duniawi. Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah berat yang wajib dipertanggungjawabkan di akhirat. Munculnya pemimpin yang adil, yang baik, yang diidamkan, dan diidolakan sekaligus yang diharapkan bisa membawa keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan tidak bisa diwujudkan melainkan oleh seorang yang beriman dan bertakwa kepada Alloh SWT, karena orang-orang yang beriman, menurut baginda Nabi SAW, adalah orang-orang yang bisa menempatkan diri baik sebagai orang yang memimpin atau orang yang dipimpin.

Lanjut beliau, ketika orang yang beriman dan bertakwa menjadi seorang pemimpin, maka insyaallah akan sukses di dalam kepemimpinannya, membawa kemaslahatan, kesejahteraan, dan kemakmuran bagi yang dipimpinnya. Dan ketika menjadi orang yang dipimpin, insyaallah sukses pula menempatkan diri sebagai orang yang dipimpin. Ia tidak banyak merecoki, tidak memusuhi, dan mudah untuk ditata/diatur sebagaimana tujuan bersama dalam bermasyarakat dan bahkan bernegara.

Menurut beliau, tidak ada kebaikan sedikitpun bagi orang yang tidak bisa menjadi seorang pemimpin yang adil, yang hanya membawa kesengsaraan bagi yang dipimpinnya. Begitu pula sebaliknya, tidak ada kebaikan sedikitpun bagi orang yang ketika dipimpin tidak bisa menempatkan diri sebagai orang yang baik dan patuh ketika dipimpin. Ia selalu membantah, tidak mau mengikuti, melawan, bahkan ngerecoki/ngeriwuki.

Dalam khutbah Jum’at yang disampaikan oleh KH. Muhammad Rifa’i ini, ditegaskan bahwa setiap individu pada hakikatnya adalah seorang pemimpin dan sekaligus orang yang dipimpin. Status tersebut melekat tanpa memandang kasta, jabatan sosial, kekayaan, ataupun gender.

Prinsip kepemimpinan universal ini dipertegas oleh Rasulullah SAW melalui hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”
Hadits ini menjadi fondasi utama khutbah. Beliau menekankan bahwa tidak ada satu pun manusia yang lolos dari audit ilahi terkait apa yang dipimpinnya.

Seorang suami, lanjut beliau, adalah seorang pempimpin di dalam keluarganya. Seorang suami tidak hanya mencukupi kebutuhan materi (pangan, sandang, papan). Ia wajib memimpin aspek spiritual dengan mengajarkan sholat, menjaga moralitas keluarga, dan melindungi mereka dari siksa api neraka (sesuai QS. At-Tahrim: 6).

Begitu juga seorang istri, ia bukanlah pelayan, melainkan manajer dan pemimpin di dalam rumah suaminya. Seorang istri memimpin dengan mengelola keuangan rumah tangga secara jujur, mendidik anak-anak dengan akhlak mulia, serta menjaga kehormatan rumah saat suami tidak ada. Istri menjadi madrasah pertama (madrasatul ula) bagi anak-anaknya.

Hubungan timbal balik antara yang memimpin dan dipimpin juga berlaku dalam dunia kerja, bahkan mencakup ranah domestik terkecil seperti Asisten Rumah Tangga (ART). Seorang ART memimpin dirinya sendiri untuk bekerja secara jujur. Mereka menjaga rahasia rumah tangga majikan, tidak mengambil barang yang bukan haknya, dan merawat fasilitas rumah dengan penuh amanah.

Kesimpulan Khutbah
Hubungan antara pemimpin dan orang yang dipimpin dalam Islam didasarkan pada asas keadilan, amanah, dan kasih sayang. Jika suami, istri, pekerja, dan majikan menjalankan perannya sesuai koridor Al-Qur’an dan Hadits, maka akan tercipta kedamaian yang dimulai dari lingkup rumah tangga hingga meluas ke tingkat bangsa dan negara.

Khatib mengakhiri khutbahnya dengan harapan agar kita senantiasa diberi maunah dan pertolongan oleh Alloh SWT agar kita bisa menjadi seorang pemimpin–sekaligus orang yang dipimpin–yang baik, yang sesuai dengan koridor ajaran Islam menurut Al Quran dan hadits Nabi SAW. Mudah-mudahan kita dianugerahi seorang pemimpin yang adil yang bisa membawa kita ke dalam kehidupan yang nyaman dan sejahtera yang akhirnya bisa mengantarkan kita menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post