Meneladani As Saja’: Keberanian yang Bertanggung Jawab

Tahlil Rutin, Kamis/13 Agustus 2026
Host: Bapak Taufiek

Tahlil Rutin kali ini bertepatan di rumah Bapak Taufiek. Acara dibuka dengan pembacaan ummul kitab oleh Bapak Supriyono. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pembacaan surah Yasin yang dipimpin oleh Ustad Sohibul Hairi, surah Al Mulk oleh Ustad Eko, dan tahlil oleh Ustad Khalik Ahmadi serta ditutup dengan doa oleh Ustad Imam Rofi’i.

Setelah rangkaian yasin dan tahlil selesai, acara dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh Al Mukarrom Kiyai Dahlan Thamrin. Kali ini beliau mengangkat tema tentang keberanian (As Saja’)

Meneladani As-Saja dalam Kehidupan Bernegara

Di awal ceramahnya, beliau mengatakan bahwa kita sebagai bangsa harus bisa menjadi bangsa yang berani. Berani dalam mewujudkan kesucian, sebagaimana warna bendera bangsa Indonesia: putih (tulang) melambangkan kesucian, dan merah (darah) melambangkan keberanian. Dalam bahasa Al Quran, keberanian diistilahkan dengan as saja’, sementara kesucian diistilahkan dengan thaharah. Alloh SWT berfirman, “innallaha yuhibbut tawwaabiina wa yuhibbul mutathohhiriin” yang artinya Alloh SWT mencintai orang yang suka bertaubat dan suka mensucikan diri.

Secara bahasa, lanjut beliau, As-Saja’ berarti kuat, berani, atau gagah. Dalam kacamata syariat Islam, keberanian bukan sekadar urusan otot, heroisme fisik, atau tindakan nekat tanpa perhitungan. Menurut beliau, As-Saja’ adalah keteguhan hati, kekuatan jiwa, dan konsistensi mental seseorang dalam mempertahankan kebenaran serta melangkah di jalan yang diridai Alloh SWT, apa pun risiko objektif yang harus dihadapinya.
“Keberanian dalam Islam bukanlah ketiadaan rasa takut. Rasa takut adalah tabiat kemanusiaan yang fitri. Namun, As-Saja’ adalah keberanian yang bertanggungjawab serta kemampuan mengendalikan rasa takut tersebut demi ketundukan pada kebenaran yang lebih besar,” tegas Kiyai Dahlan. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara keberanian sejati dengan kecerobohan/ngawur. Jiwa yang memiliki sifat As-Saja’ akan melahirkan ketenangan dalam menghadapi badai ujian, kejujuran dalam bersikap, dan kerelaan untuk berkorban demi kemaslahatan umat. Beliau mengingatkan jamaah bahwa sifat ini merupakan salah satu pilar akhlak mulia yang dicontohkan secara sempurna oleh Rasulullah SAW dan para sahabat dalam membangun peradaban yang berkeadilan.

Memasuki bagian kedua ceramah, Kiyai Dahlan Thamrin menguraikan lebih dalam mengenai anatomi keberanian yang benar. Beliau menekankan konsep “keberanian yang bertanggung jawab”. Menurut beliau, Islam menolak dua titik ekstrem yang merusak tatanan sosial masyarakat: titik ekstrem kepengecutan (al-jubn) dan titik ekstrem kecerobohan atau nekat yang buta/ngawur (at-tahawwur). Sifat As-Saja’ berada tepat di tengah-tengah kedua kutub ekstrem tersebut sebagai bentuk moderasi Islam.
Al-Jubn atau kepengecutan adalah kondisi ketika seseorang membiarkan rasa takut menguasai dirinya, sehingga ia diam seribu bahasa melihat kemungkaran, membiarkan kezaliman merajalela, dan enggan mengambil risiko untuk menegakkan keadilan. Sementara itu, At-Tahawwur adalah keberanian palsu yang tidak terukur/ngawur. Tindakan nekat ini didasari oleh luapan emosi sesaat, keangkuhan, atau nafsu amarah tanpa mempertimbangkan maslahat dan mudarat. At-Tahawwur sering kali merusak, melanggar hukum, dan merugikan orang lain dengan dalih perjuangan. Oleh karena itu, Kiyai Dahlan menggarisbawahi bahwa As-Saja’ harus selalu bergandengan tangan dengan tanggung jawab dan ilmu.

Penutup

Sebagai penutup ceramahnya, Kiyai Dahlan Thamrin mengingatkan bahwa membangun bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, melainkan fondasi mental yang kokoh berupa keberanian yang terpimpin oleh iman dan moralitas yang bertanggung jawab. Setelah acara ramah tamah, jamaah pun membubarkan diri dengan harapan agar mereka memiliki tekad baru untuk menumbuhkan sifat As-Saja’ dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

Khutbah Jum’at 3 Juli 2026: Membina Hati yang Bersih dengan Mengenal Macam Hati dan Penyebab Kerasnya HatiKhutbah Jum’at 3 Juli 2026: Membina Hati yang Bersih dengan Mengenal Macam Hati dan Penyebab Kerasnya Hati

Khatib: KH. Habib MustafaBilal: Ustad Kholik Ahmadi KERAMAT AGUNG — Khatib mengawali khutbahnya dengan berwasiat taqwa kepada para jamaah. Hal ini harus terus menjadi prioritas untuk selalu menjalankan perintah Alloh