BARENG TENES— Salah satu fase paling sakral dalam perjalanan hidup sepasang suami dan istri adalah titipan amanah berupa embrio kehidupan di dalam rahim seorang ibu. Kebahagiaan tiada tara inilah yang saat ini menyelimuti hati pasangan Andi Muhammad Nasution (putra dari Bapak H. Rudi Hartanto, selaku pengurus dalam ketakmiran Masjid Keramat Agung) dan Ineke Adelia Fransiska. Sebagai wujud rasa syukur yang mendalam atas karunia kehamilan yang telah menginjak usia tujuh bulan, keluarga besar Bapak H. Rudi Hartanto–yang akrab dipanggil dengan “Abah Rudi”– menggelar acara syukuran khidmat yang sarat akan nilai spiritual, budaya, dan sosial.
Acara syukuran tujuh bulanan ini bukan sekadar seremoni ritualitas tanpa makna. Bagi pasangan Andi dan Ineke, momentum ini merupakan madrasah pertama bagi sang buah hati yang masih berada di dalam kandungan. Memasuki usia tujuh bulan, organ-organ tubuh janin telah terbentuk sempurna dan ruh telah ditiupkan, menjadikannya waktu yang paling mustajab untuk memanjatkan doa demi memohon keselamatan, kesempurnaan fisik, serta kebaikan akhlak bagi sang calon bayi.
Sinergi Tradisi Islami dan Kearifan Lokal
Digelar dengan mengusung konsep yang kental dengan nuansa religius, kediaman Abah Rudi ini disulap menjadi penuh dengan kekhusyukan. Kehadiran para jamaah Masjid Keramat Agung, tetangga, dan kerabat dekat menambah kehangatan atmosfer acara. Melalui untaian doa-doa yang dipanjatkan, keluarga berharap anak yang dilahirkan kelak menjadi generasi yang saleh atau saleha, berbakti kepada kedua orang tua, serta berguna bagi agama, bangsa, dan sesama.
Penyelenggaraan acara ini juga menjadi bukti nyata bagaimana ajaran Islam dapat berjalan beriringan secara harmonis dengan kearifan lokal. Tradisi menjaga kehamilan lewat media sedekah dan berkumpul bersama untuk mendoakan ibu hamil adalah warisan adiluhung yang terus dilestarikan.



Gema Sholawat Terbang Jidor Masjid Keramat Agung
Malam syukuran berjalan begitu istimewa dan semarak dengan hadirnya rombongan hadrah Terbang Jidor dari Masjid Keramat Agung. Musik tradisional yang memadukan tabuhan terbang (rebana) dan jidor ini membawa dinamika spiritual yang sangat kuat ke tengah-tengah ruang acara. Sejak pukulan pertama dimulai, harmoni suara yang dihasilkan langsung menyedot perhatian seluruh jemaah yang hadir, menciptakan suasana magis yang dipenuhi rasa rindu kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Lantunan bait-bait sholawat dibawakan dengan nada khas yang menyentuh kalbu. Alunan vokal para munsyid (Ustad Kholik Ahmadi, Ustad Rofiosan, dan Ustad Eko) yang saling bersahutan, ditambah dengan ketukan jidor yang mantap, membuat ruang acara seolah bergetar oleh energi positif.



Energi Positif bagi Sang Janin
Secara ilmiah dan spiritual, lantunan ayat suci (pembacaan surah Yusuf oleh Ustad H. Muhammad Khusnan dan Surah Maryam oleh Ustad Rofiosan) serta sholawat yang didengar oleh ibu hamil memberikan stimulasi yang sangat baik bagi perkembangan otak dan psikologis janin. Ketika seluruh hadirin larut dalam lantunan sholawat nabi yang diiringi ketukan ritmis terbang jidor, aura ketenangan begitu terasa meresap ke dalam jiwa sang calon ibu.
Apresiasi mendalam datang dari para tamu undangan yang hadir termasuk jamaah Masjid Keramat Agung. Kemeriahan ini tidak menyisakan ruang bagi kesia-siaan, melainkan mengubah ruang pertemuan menjadi roudhotul jannah karena dipenuhi oleh majelis zikir dan sholawat. Gema terbang jidor ini menjadi simbol bahwa anak yang dikandung diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mencintai nabinya dan selalu rindu pada syiar-syiar Islam.
Memetik Keteladanan Nabi Yusuf AS dan Zulaikha bersama KH Dahlan Thamrin
Puncak dari acara syukuran ini adalah penyampaian Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh Kiyai kharismatik, KH Dahlan Thamrin. Dalam tausiyahnya yang memikat, beliau mengangkat tema yang sangat relevan bagi pasangan muda: “Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha serta Hikmah di Baliknya.” KH Dahlan Thamrin menyampaikan bagaimana kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai Ahsanul Qashash (kisah terbaik) ini bukan sekadar romansa biasa, melainkan madrasah tentang kesabaran, menjaga kehormatan diri dan takdir Allah yang indah.
Beliau menjelaskan bahwa ketampanan Nabi Yusuf tidak hanya terletak pada paras wajahnya, melainkan pada kemuliaan akhlaknya saat menghadapi godaan. Sementara kisah Zulaikha mengajarkan kita semua bahwa apabila seseorang mengejar cinta makhluk dengan mengabaikan penciptanya, ia akan lelah dan kecewa. Namun, ketika Zulaikha memperbaiki hubungannya dengan Alloh, maka Alloh kembalikan cinta Nabi Yusuf kepadanya dalam ikatan yang suci.

Harapan Masa Depan dan Penutup Acara
Acara malam itu diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin langsung oleh KH Dahlan Thamrin. Pasangan Andi Muhammad Nasution dan Ineke Adelia Fransiska tampak khusyuk mengamini setiap untaian doa, berharap agar persalinan dua bulan ke depan berjalan lancar tanpa kurang suatu apa pun.
Keluarga besar Abah Rudi mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh jemaah, tim terbang jidor Masjid Keramat Agung, serta KH Dahlan Thamrin atas kehadiran dan ilmu yang diberikan. Semoga jalannya syukuran ini diridhai oleh Alloh SWT, dan sang calon bayi lahir menjadi pelita baru yang membawa keberkahan bagi dunia dan akhirat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.
