Khatib: Ustad Abdul Qadir Al Jailani M.Ag
Bilal: Ustad M. Gufron
KERAMAT AGUNG — Khatib mengawali khutbahnya dengan mengajak para jamaah untuk instropeksi diri, sampai saat ini perjalanan ketakwaan kita kepada Ilahi Robbi sudah sejauh mana, baik yang hablum minallah maupun hablum minannas, baik yang wajib, yang sunnah, maupun yang mubah. Marilah di saat yang mulia ini kita jujur, apakah perjalanan ketakwaan kita sepanjang umur yang Alloh berikan kepada kita, apakah ketakwaan kita sebanyak ilmu serta pengalaman yang Alloh berikan kepada kita. Yang bisa menjawab dengan jujur adalah diri kita masing-masing. Kalau kita berani jujur dari relung hati menjawabnya, ternyata sampai saat ini, dengan umur yang semakin renta tua, jika kita semakin jauh dari Alloh dan Rasul-Nya, maka marilah dalam kesempatan yang mulia ini kita bertekad bulat untuk bangkit bertaubat kepada Dzat yang Maha Kuat seraya menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya semata-mata karena Alloh SWT dan semata-mata mengikuti idola agung kita, baginda Nabi Muhammad SAW, serta terus menumbuhkan rasa bahwa tiada daya dan kekuatan, semua adalah maunah dari Alloh SWT. Insyaallah, apabila hal ini terus bergejolak di dalam hati kita, dan ditumbuhkembangkan dengan aktifitas kita sehari-hari dalam menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka kita akan benar-benar diberi oleh Alloh SWT anugerah kebahagiaan yang hakiki di dunia lebih-lebih di akhirat kelak.
Lanjut khatib, nikmat Alloh SWT amatlah banyak. Manusia bisa dipastikan tidak akan mampu menghitungnya, baik nikmat yang tidak kita minta seperti adanya jenis laki-laki dan perempuan, maupun nikmat yang dipelihara oleh Alloh SWT seperti cakrawala dunia dan alam semesta. Itu semua adalah nikmat yang tiada tara yang Alloh pelihara, termasuk nikmat kemerdekaan Republik Indonesia. Namun dengan nikmat kemerdekaan ini, apakah manusia itu sendiri (kita sebagai warga Indonesia) telah benar-benar merdeka dari peperangan melawan diri kita sendiri dan dari hawa nafsu kita, sehingga yang semestinya kemerdekaan Indonesia diisi dengan hal-hal yang positif, malah kita isi dengan hal-hal yang negatif. Kenapa ini terjadi? Rasulullah pernah bersabda setelah selesai perang badar, “Kita telah kembali dari perang kecil menuju perang yang besar”. Lantas para sahabat bertanya, “Perang apa itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Jihadun nafsi (perang melawan hawa nafsu)”. Setelah perang badar, di mana para sahabat banyak yang gugur, harta, darah, bahkan keluarga banyak dikorbankan, yang menurut perspektif semua sahabat bahwa ini adalah perang besar, tetapi bagi Rasulullah SAW ini adalah perang yang kecil, dan ada perang yang lebih besar lagi baik masanya maupun musuhnya, yakni perang melawan hawa nafsu.
Khatib melanjutkan bahwa jihad bermakna perang, sementara nafsu adalah keinginan yang ada pada diri manusia. Inilah yang menentukan apakah Indonesia akan berada di masa kejayaan ataukah malah keterpurukan. Semua di mulai dari diri kita sendiri. Karena itu, Rasulullah mengatakan hal ini amatlah berat. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghozali menerangkan bahwa nafsu dibagi menjadi (1) nafsu bahimiyah, nafsu yang bagaikan hewan lunak, inginnya makan, santai, melakukan hubungan badan dengan lawan jenis, ingin selalu bebas tanpa aturan, dan setiap manusia ada kecenderungan terhadap nafsu ini, (2) nafsu sabu’iyah, nafsu yang cenderung ingin selalu menang, tidak peduli dengan cara yang salah atau benar, ia ingin selalu berkuasa, (3) nafsu syaithoniyah, nafsu yang mengarahkan manusia berbuat mungkar, semua aturan/undang-undang akan dilanggarnya, baik undang-undang yang bersumber dari Ilahiyah maupun insaniyah. Kearifan lokal dan konstitusi nasional tidak akan dihiraukannya. Ini adalah watak syaithon, yang selalu menentang kebenaran dan mengajak manusia untuk melanggar perintah-perintah Alloh SWT, dan yang ke (4) nafsu rububiyah, nafsu yang sangat halus, hingga manusia sulit untuk mengetahui bahwa itu adalah bisikan dari Alloh atau ada maksud yang tersembunyi, contoh: kita diberi kemampuan oleh Alloh, baik kemampuan fisik maupun non fisik, diberi kekayaan, kemahiran dan keilmuan, tetapi dalam hatinya tidak merasa bahwa itu dari Alloh SWT. Ketika ia kaya, ia merasa bahwa kekayaannya berasal dari usahanya dan kupa bahwa semua itu adalah dari Alloh SWT.
Penutup
Maka, bagaimana agar kita bisa menang melawan hawa nafsu kita, yakni dengan cara belajar ilmu agama termasuk Al Quran dan hadits sebanyak-banyaknya dan berusaha keras (riyadhoh) untuk melaksanakannya. Dan menyadari bahwa semua itu adalah pertolongan (maunah) dari Alloh SWT bukan semata-mata usahanya sendiri, sehingga terhindar dari takjub pada diri sendiri. Semua itu ia sadari bahwa tiada daya dan kekuatan melainkan dari Alloh SWT (laa haula wa laa quwwata illaa billaah).
Mudah-mudahan kita semua diberi pertolongan oleh Alloh SWT agar kita bisa mengalahkan hawa nafsu kita sehingga kita bisa beribadah dan mensyukuri semua nikmat-Nya sesuai dengan kehendak Alloh SWT. Amin ya robbal alamin.
