Khatib: KH. Taqiyuddin Alawy
Bilal: Ustad Khalik Ahmadi
KERAMAT AGUNG — Pada kesempatan yang penuh berkah di Masjid Keramat Agung, KH. Taqiyuddin Alawy menyampaikan pesan takwa yang sangat mendalam mengenai kesehatan hati. Khatib membuka khutbah dengan mengingatkan bahwa takwa bukan hanya tercermin dari ibadah fisik, melainkan juga dari kebersihan hati. Salah satu penyakit hati paling merusak yang dibahas pada khutbah kali ini adalah penyakit iri.
Penyakit iri, lanjut khatib, tidak datang dengan suara keras, ia menyelinap pelan ke dalam hati, lalu menggerogoti rasa syukur sedikit demi sedikit. Tetangga membeli mobil baru, teman yang mendapatkan promosi jabatan, saudara yang memiliki harta lebih banyak, semua itu adalah potongan-potongan kehidupan atau pemandangan yang biasa. Namun ketika hati tidak dijaga, pemandangan yang biasa tersebut akan berubah menjadi sumber kegelisahan. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan nikmat yang mereka miliki dengan apa yang kita dapatkan. Di sinilah, iri tidak hanya sekedar perasaan, tetapi telah berubah menjadi penyakit yang merusak kebersihan hati kita.
Alloh berfirman dalam surah Taha ayat 131:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Artinya: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.”
Melalui ayat ini, KH. Taqiyuddin Alawy menjelaskan bahwa Alloh melarang keras hamba-Nya memandang dengan penuh syahwat dan keirihatian terhadap kemewahan dunia milik orang lain. Segala keindahan materi yang melekat pada orang lain hanyalah zahratul hayatid dunya (bunga kehidupan dunia) yang sifatnya sementara, cepat layu, dan sejatinya merupakan ujian yang berat. Khatib menekankan penggalan akhir ayat: rezeki dan pahala dari Alloh jauh lebih baik dan bersifat abadi.
Lanjut khatib, berdasarkan surah Taha ayat 131 di atas, tidak berarti bahwa kita tidak boleh sama sekali melihat nikmat orang lain, asalkan memandang nikmat tersebut dengan cara yang biasa. Yang dilarang adalah memandang nikmat orang lain dengan disertai adanya kecenderungan yang kuat untuk berusaha memiliki nikmat tersebut sehingga menimbulkan penyakit iri dan dengki.
Lalu khatib menyampaikan bagaimana cara menjaga hati agar tidak mudah terjangkit penyakit iri ketika melihat berbagai kenikmatan yang diberikan Alloh SWT kepada orang lain. Caranya adalah dengan mengatur cara pandang kita. Rasulullah SAW dalam salah satu riwayat mengajarkan kepada kita bahwa dalam hal dunia, hendaklah kita melihat orang yang kondisinya di bawah kita, karena dengan begitu, membuat hati kita mudah bersyukur kepada Alloh SWT. Dalam riwayat Imam Ahmad, dari sahabat Abu Hurairah, Baginda Nabi SAW bersabda: “Pandanglah orang yang lebih rendah dari kalian, dan janganlah kalian memandang orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Alloh SWT“.
Lanjut khatib, hadits ini mengajarkan satu pelajaran yang sangat penting, yang sering membuat hati kita gelisah adalah bukan karena nikmat Alloh yang diberikan kepada kita sedikit, melainkan karena mata kita terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain. Kita lebih mudah melihat apa yang tidak kita miliki daripada mensyukuri karunia yang selama ini Alloh titipkan kepada kita. Syukur dan iri berawal dari tempat yang sama, yaitu dari cara kita memandang kehidupan ini. Orang yang setiap harinya hanya melihat ke atas, dia akan merasa selalu kurang. Berapapun banyak hartanya, ia tetap merasa miskin. Setinggi apapun jabatannya, ia masih merasa tertinggal. Sebaliknya, orang yang selalu melihat ke bawah, akan menyadari betapa banyak nikmat Alloh SWT yang selama ini luput dari rasa syukurnya. Karena itu, Rasulullah SAW tidak memerintahkan kita untuk berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik. Beliau mengajarkan bahwa ukuran syukur jangan didasarkan pada orang yang lebih tinggi, tetapi pada mereka yang hidup dalam keterbatasan. Dengan cara itulah, hati kita akan tetap tenang. Nasihat Rasulullah SAW terasa semakin relevan di zaman sekarang.
Khatib menyampaikan jika kita hanya melihat kemewahan ketika berkunjung ke rumah tetangga, tanpa melihat perjuangan dan air mata mereka dalam meraih nikmat mereka, maka penyakit iri niscaya akan masuk ke dalam hati dan tumbuh secara perlahan. Ketika melihat teman mengunggah foto di sosial media dengan mobil barunya, hati yang tak terjaga akan berbisik kenapa aku belum mampu seperti itu. Dari bisikan tersebut, akan muncul rasa tidak bersyukur terhadap rejeki yang telah Alloh titipkan kepadanya. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya memaksa diri berhutang agar terlihat setara dengan orang lain. Orang yang iri akan kehilangan ketenangan hidup, sementara orang yang didengki tetap menikmati hidup mereka.
Sebaliknya, jika hati selalu melihat kenikmatan orang lain yang kurang beruntung daripadanya, hati akan terjaga dari penyakit iri yang bahayanya bisa menggerogoti amal ibadah yang selama ini kita lakukan, seperti api yang membakar habis kayu bakar (al hadits). Kesadaran seperti ini bukan untuk merendahkan nikmat orang lain, namun untuk menumbuhkan rasa syukur yang sering tertidur di dalam hati kita.
Penutup
Khatib menutup khutbahnya dengan ajakan untuk selalu menjaga hati dari sifat iri. Iri adalah penyakit yang menyakiti pemiliknya sendiri sebelum menyakiti orang lain. Maka, jika suatu hari kita melihat orang lain memperoleh kenikmatan yang tidak/belum Alloh SWT berikan kepada kita, janganlah kita mengeluh, karena bisa jadi Alloh SWT sedang mengajari kita untuk bersabar. Bisa jadi pula Alloh sedang menyiapkan rejeki yang lebih baik pada waktu yang tepat, sebab Alloh tidak pernah keliru dalam membagi karunia-Nya. Yang berbeda hanyalah waktu, bentuk, dan kadar nikmat yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya. Islam tidak pernah melarang kita untuk memiliki cita-cita yang tinggi, namun Islam memperingatkan kita agar tidak kehilangan ketenangan batin dan kehilangan rasa syukur saat melihat kenikmatan yang dimiliki orang lain. Karena itu, kita harus terus berusaha menjaga pandangan dan hati sebelum ia dikuasai oleh rasa yang tidak rela terhadap ketentuan Alloh SWT. Hati harus dipenuhi rasa syukur agar ia selalu merasa cukup dengan apapun yang diberikan oleh Alloh SWT. Semoga kita dijauhkan dari penyakit iri dan dengki, dan diberikan hati yang lapang dan penuh syukur serta ridho akan ketentuan Alloh SWT. Aamiin ya rabbal alamiin.
