Khatib: KH. Habib Mustafa
Bilal: Ustad Kholik Ahmadi
KERAMAT AGUNG — Khatib mengawali khutbahnya dengan berwasiat taqwa kepada para jamaah. Hal ini harus terus menjadi prioritas untuk selalu menjalankan perintah Alloh SWT dan menjauhi larangan-Nya. Selanjutnya, khatib mengutip salah satu hadits Nabi SAW tentang hati. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.”
Sebagaimana disampaikan oleh KH Habib Mustofa, hadits ini menegaskan bahwa hati adalah raja. Tubuh kita—mulai dari mata, telinga, lisan, tangan, hingga kaki—hanyalah prajurit yang patuh.
• Jika sang raja memerintahkan kebaikan, maka seluruh anggota badan bergerak menuju kebaikan.
• Jika sang raja dipenuhi kemaksiatan, maka raga akan diseret melakukan kemungkaran.
Oleh karena itu, menjaga kesehatan ruhani dan kebersihan hati merupakan kewajiban paling utama bagi setiap Muslim.
Selanjutnya, khatib menyampaikan bahwa ada lima macam hati: (1) ada manusia yang hatinya mati, (2) ada manusia yang hatinya keras, (3) ada manusia yang hatinya gelap, (4) ada manusia yang hatinya hidup, dan (5) ada manusia yang hatinya senantiasa berzikir kepada Alloh SWT. Hati yang selalu berzikir kepada Alloh SWT tidak akan bisa digoda oleh setan. Sementara, hati yang keras tidak akan terhubung dengan Alloh SWT, sehingga ia tidak mau diajak ke dalam kebaikan dan berat untuk melakukan ibadah.
Khatib menambahkan bahwa ada tiga hal yang bisa membuat hati menjadi keras: (1) suka tidur, (2) suka makan, dan (3) suka melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti begadang yang tanpa guna, bermain gadget hingga lupa waktu, menonton televisi yang tidak menambah ilmu, dan sebagainya.
Hati itu ibarat raja yang memiliki banyak bala tentara (lisan, mata, tangan, kaki, dan lainnya). Apabila raja tersebut baik, maka baik pula bala tentaranya. Sebaliknya, apabila ia buruk, maka buruk pula bala tentaranya. Jika ada lisan yang suka digunakan untuk menggunjing–misalnya– maka bisa dikatakan bahwa orang tersebut memiliki hati yang buruk. Jika ada tangan yang suka digunakan untuk mencuri, maka bisa dikatakan orang tersebut juga memiliki hati yang buruk. Maka, khatib berpesan kepada para jamaah untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa menyebabkan hati menjadi rusak/buruk, termasuk memakan barang yang haram karena bisa membuat anggota tubuh kita berat untuk diajak melakukan kebaikan/beribadah.
Khatib menambahkan, kondisi seseorang yang suka beribadah/istiqomah dalam kebaikan dan orang yang suka bermaksiat/terus-menerus berbuat dosa tergantung dari makanan/minuman yang ia konsumsi. Orang yang istiqomah dalam ketaatan akan selalu menjaga dirinya untuk selalu melakukan kebaikan dan menghindari keburukan walau dari hal yang sepele. Sebaliknya orang yang bergelimang dalam kemaksiatan, ia tidak akan mempedulikan perbuatannya saat dia melakukan keburukan walau dari hal yang sepele.
Berkenaan dengan hal ini, khatib menyampaikan sebuah kisah, yakni ketika suatu hari Nabi Isa AS sedang berjalan melewati suatu pemakaman, beliau–dengan izin Alloh SWT– membangkitkan salah seorang mayat yang sudah cukup lama meninggal. Lalu beliau bertanya kepada mayat yang hidup tersebut, “Siapa kamu ini?” Sang mayat menjawab, “Wahai Nabi Isa, saya dulu adalah seorang kuli yang bekerja dengan membawakan barang-barang orang. Suatu ketika, saat saya sedang membawa kayu milik seseorang, saya mematahkan secuil kayu itu untuk mencongkel sisa makanan yang terselip di sela-sela gigi saya. Dan gara-gara hal terebut, perhitungan amal (hisab) saya hingga hari ini belum selesai (riwayat lain mengatakan bahwa gara-gara secuil kayu tersebut, orang itu disiksa di dalam kuburnya hingga hari itu). Maka dari itu, khatib berpesan kepada para jamaah untuk selalu waspada dengan apa yang kita perbuat, terutama yang menyangkut dengan hak orang lain (hablum minannas).
Lanjut khatib, Nabi Isa AS pernah berpesan kepada sahabat-sahabat beliau, “Wahai para sahabatku, janganlah kalian berteman dengan orang mati, karena bisa membuat hatimu mati”. Lantas sahabat beliau bertanya, “Wahai Nabi Isa, siapakah orang yang mati itu?” Nabi Isa menjawab, “Orang yang mati itu adalah mereka yang rakus dengan dunia”. Di dalam Islam, tidak ada larangan untuk menjadi kaya, dengan syarat: (1) harta yang didapatkan harus benar-benar halal, (2) jangan sampai harta menjadikan kita lalai dalam beribadah terutama sholat lima waktu, dan (3) jangan sampai harta menjadikan kita kikir/pelit.
Khatib, selanjutnya, mengutip kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Al Gazali yang menyebutkan salah satu penyakit hati, yakni hasut. Hasut adalah penyakit hati yang tidak suka jika orang lain mendapatkan nikmat. Ia akan berusaha untuk menghilangkan nikmat itu dari orang lain dan berupaya agar nikmat itu beralih padanya. Bahaya hasut adalah ia seperti api yang membakar habis kayu bakar. Ia membakar habis kebaikan/pahala seolah orang itu tidak pernah melakukan kebaikan.
Khatib memberikan contoh konkrit yakni ketika Iblis menghasut Nabi Adam AS dan Hawa untuk melanggar perintah Alloh SWT dengan memakan buah khuldi hingga mereka diusir dari surga dan diturunkan ke bumi. Contoh lainnya adalah kisah pembunuhan pertama di bumi oleh keturunan Nabi Adam AS, yakni Qabil yang membunuh Habil karena Qabil ingin mendapatkan istri yang cantik yang merupakan jodoh Habil.
Sebagai manusia, kita tidak akan terlepas dari dosa, baik kita sadari saat melakukannya atau tidak. Ini menandakan bahwa iman bisa meningkat dan menurun, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Al imanu yazid wa yankus“, yang artinya iman itu (bisa) bertambah dan berkurang. Menurut khatib, tanda iman seseorang bertambah adalah ketika ia ringan dalam melakukan kebaikan/ibadah. Sebaliknya, iman seseorang berkurang saat kemaksiatannya bertambah, ia merasa berat melakukan kebaikan/ibadah.
Namun demikian, lanjut khatib, iman bisa ditingkatkan dengan cara menambah ilmu, belajar, atau tholabul ilmi. Orang yang berilmu, ibadahnya tidak sia-sia. Misalnya, setelah selesai sholat Jumat, ia tetap dalam posisi duduknya dan membaca Surat Al Fatihah tujuh kali, dilanjut Surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas masing-masing tujuh kali. Ia melakukan ini karena ia berilmu, ia tahu fadilahnya, yakni dosa-dosanya diampuni oleh Alloh SWT.
Sebagai penutup, khatib berharap agar kita semua terhindar dari bahaya hati yang keras dan hati yang hasut. Mudah-mudahan kita semua memiliki hati yang hidup, yang senantiasa berzikir kepada Alloh SWT, sehingga kita ringan dalam melakukan kebaikan/ibadah. Aamiin
