MENJALIN SPIRITUALITAS DAN KESALEHAN SOSIAL: Catatan Kegiatan Istigotsah dan Kajian Hadits ke-15 Al-Arba’in An-Nawawiyyah di Masjid Keramat Agung

KERAMAT AGUNG — Malam Jumat Legi selalu menempati ruang khusus dalam kesadaran spiritual jamaah Masjid Keramat Agung. Momentum ini bukan sekadar pergantian hari dalam kalender pasaran, melainkan ruang kultural dan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Masjid Keramat Agung, dengan karpet tebal berwarna cokelat cerah, malam itu menjadi tempat berkumpulnya para pencari berkah. Kegiatan rutin istigotsah malam Jumat Legi bukan lagi sekadar agenda organisasi takmir, melainkan sudah menjelma menjadi kebutuhan ruhani yang mengakar. Kali ini, yang menjadi tuan rumah adalah Saudara Arga. Sementara itu, yang bertugas memimpin pembacaan istighotsah adalah Ustad Nardi Sugianto, surat Yasin dibacakan oleh Ustad Eko, surat Al Mulk dilantunkan oleh Ustad Kholik Ahmadi, dan do’a dibawakan oleh Ustad H. Muhammad Khusnan.

Kajian Inti Hadits ke-15 Al-Arbain An-Nawawiyah

Setelah rangkaian zikir istigotsah selesai, acara memasuki sesi utama, yaitu mauidhoh hasanah. Pada malam Jumat Legi kali ini, KH. Dahlan Thamrin, selaku penasihat dalam ketakmiran Masjid Keramat Agung, hadir untuk memberikan wejangan singkat tentang salah satu hadits dalam kitab legendaris Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Imam An-Nawawi, sebuah kitab masterpice yang merangkum inti ajaran Islam melalui 42 hadits pilihan. Pembahasan malam ini bertepatan dengan urutan hadits yang ke-15.

Sebelum KH. Dahlan Thamrin membuka ceramahnya, Ustad Hairi membacakan teks hadits ke-15 dengan penuh kekhusyukan.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.

Selanjutnya, KH. Dahlan Thamrin menjelaskan makna hadits tersebut dengan suara yang teduh namun tegas. Beliau menekankan bahwa iman tidak boleh berhenti di dalam wilayah teologis semata (keyakinan hati), melainkan harus termanifestasikan dalam bentuk akhlak sosial yang nyata. Untuk membedah konsep tersebut, beliau menyelaraskan hal tersebut dengan hadits ke-15 yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA.

Pilar pertama yang dikupas oleh KH. Dahlan Thamrin adalah manajemen lisan. Beliau menjelaskan bahwa Islam memberikan dua pilihan tegas dalam berkomunikasi: kontribusi positif yang menyelamatkan.
• Berkata Baik: Ucapan yang mengandung zikir, nasihat kebaikan, ilmu, atau kalimat yang menyenangkan hati orang lain tanpa melanggar syariat.
• Diam: Jika ucapan tersebut berpotensi melahirkan gibah, fitnah, adu domba (namimah), atau menyakiti perasaan orang lain, maka diam adalah ibadah terbaik.

Pembahasan beralih ke pilar kedua, yaitu hubungan sosial dengan lingkungan terdekat. Tetangga adalah orang yang paling pertama melihat kondisi kita, baik dalam suka maupun duka, bahkan sebelum kerabat kandung yang tinggal jauh datang membantu. Oleh karena itu, berbuat baik kepada tetangga adalah syarat mutlak terciptanya lingkungan masyarakat yang harmonis.

Pilar terakhir dalam hadits ke-15 adalah etika menerima tamu. Beliau menjelaskan bahwa kedatangan tamu membawa keberkahan tersendiri bagi pemilik rumah. Tamu datang membawa rezeki dari Alloh dan pulang dengan membawa serta menghapus dosa-dosa penghuni rumah. Memuliakan tamu tidak harus dengan bermewah-mewah, melainkan dengan wajah yang berseri-seri, sambutan yang hangat, dan tutur kata yang memuliakan.

Kajian yang disampaikan oleh KH. Dahlan Thamrin di Masjid Keramat Agung malam itu memberikan pencerahan bagi seluruh jamaah. Tiga pilar akhlak dalam Hadits ke-15 Al-Arba’in An-Nawawiyyah (menjaga lisan, memuliakan tetangga, dan memuliakan tamu) adalah fondasi utama bagi terciptanya masyarakat yang harmonis (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). Kesalehan seorang muslim tidak boleh hanya diukur dari seberapa lama ia bersujud di atas sejadah, melainkan juga dari seberapa aman orang-orang di sekitarnya dari gangguan lisan dan perilakunya.

Mudah-mudahan kita semua bisa meneladani kandungan hadits Arbain yang ke-15 ini dalam kehidupan sehari-hari untuk bersama-sama turut andil dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang harmonis sehingga kita bisa beribadah dengan lebih tenang dan khusyuk. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post