Maulid Diba’ dan Generasi Rabbani

Tantangan zaman yang dihadapi oleh generasi muda saat ini semakin kompleks. Di era digitalisasi dan globalisasi, anak-anak dihadapkan pada derasnya arus informasi yang tidak jarang mengikis nilai-nilai moral dan spiritual mereka. Di tengah kecemasan tersebut, Takmir Masjid Keramat Agung Malang berupaya merumuskan benteng pertahanan moral yang kokoh. Salah satu ikhtiar spiritual dan edukatif yang dinilai sangat efektif adalah pembiasaan kegiatan rutin pembacaan Maulid Diba’ yang dilaksanakan setiap hari Sabtu di Masjid Keramat Agung.

Maulid Diba’ bukan sekadar lantunan nada berirama indah. Lebih dari itu, Takmir Masjid Keramat Agung meyakini bahwa kegiatan rutin yang melibatkan anak-anak ini merupakan metode penanaman karakter sejak dini. Jika dikelola secara konsisten, aktivitas mingguan ini diharapkan mampu mencetak Generasi Rabbani, yaitu generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, dan senantiasa menyandarkan segala aktivitasnya kepada Alloh SWT.

Hari Sabtu sering kali diidentikkan dengan waktu santai atau libur sekolah. Memanfaatkan momen ini untuk mengumpulkan anak-anak dalam sebuah majelis sholawat adalah sebuah langkah strategis. Alih-alih menghabiskan seluruh waktu luang dengan gawai atau permainan yang kurang produktif, Takmir Masjid Keramat Agung mengajak anak-anak untuk melatih lisan mereka melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Aktivitas pembacaan Maulid Diba’ yang dilakukan oleh anak-anak ini dikemas secara interaktif. Anak-anak dibagi tugas; ada yang membaca bait-bait natsar (prosa), ada yang mengiringi imam atau ustad (yang biasa dipimpin oleh Ustad Kholik Achmadi dan Ustad Rofiosan) melantunkan syi’ir (puisi), dan ada pula yang bertugas memegang alat musik rebana atau hadrah untuk mengiringi sholawat yang ditempatkan di serambi masjid. Keterlibatan aktif ini membuat mereka merasa memiliki peran dalam majelis, sehingga rasa bosan dapat dihindari. Proses ini secara tidak langsung melatih rasa percaya diri, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama (kerja tim) di antara mereka sejak usia belia.

Pintu utama menuju karakter Rabbani adalah cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam kitab Maulid Diba’, jika kita baca terjemahannya, dikisahkan secara detail mengenai keagungan akhlak Nabi, mukjizat beliau, hingga kasih sayang beliau kepada umatnya. Saat anak-anak membaca dan mendengar kisah-kisah ini secara berulang setiap Sabtu, memori kolektif mereka akan merekam kehebatan sang Nabi. Rasa kagum ini lambat laun akan berubah menjadi rasa cinta yang mendalam (mahabbah). Anak-anak yang mencintai Nabinya akan lebih mudah diarahkan untuk menjalankan syariat dan menjauhi larangan agama.

Sebagaimana kita ketahui, anak-anak adalah peniru yang ulung dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka tumbuh. Majelis Maulid Diba’ hari Sabtu ini diharapkan mampu menciptakan sebuah ekosistem sosial yang positif. Di majelis ini, mereka berkumpul dengan teman-teman sebaya yang memiliki tujuan sama: berzikir dan bersholawat. Takmir Masjid Keramat Agung optimis bahwa lingkungan seperti ini bisa melindungi anak-anak dari pergaulan bebas dan pengaruh negatif lingkungan luar.

Menurut Ustad Hairi–salah satu takmir Masjid Keramat Agung, karakter Rabbani akan tumbuh subur ketika anak berada di dalam komunitas yang saling mendukung dalam kebaikan. Beliau menambahkan bahwa kegiatan rutin pembacaan Maulid Diba’ setiap hari Sabtu oleh anak-anak bukanlah sebuah formalitas pengisi waktu luang semata, namun merupakan investasi peradaban yang sangat bernilai tinggi.

3 thoughts on “Maulid Diba’ dan Generasi Rabbani”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post