Malam Sepuluh Muharram 1448 H/Rabu, 24 Juni 2026
Malam sepuluh Muharram selalu menyimpan magis spiritual yang mendalam bagi umat Islam, terutama sebagai momentum yang dikenal dengan “Lebaran Anak Yatim”. Pada momen krusial ini, LAZISNU Masjid Keramat Agung menggelar sebuah agenda sosial-keagamaan tahunan yang menyentuh hati: menyalurkan santunan dan paket kebutuhan pokok kepada puluhan kaum dhuafa dan anak yatim.
Acara yang berlangsung khidmat dari ba’da Magrib hingga ba’da Isya ini dibalut oleh fenomena alam yang syahdu. Hujan gerimis yang mengguyur wilayah sekeliling masjid tidak menyurutkan langkah para penerima manfaat. Sebaliknya, gemercik air yang jatuh dari langit seolah menjadi simbol turunnya rahmat dan berkah yang melimpah atas kepedulian sesama manusia.
Kronologi Acara: Kehangatan di Tengah Dinginnya Malam
Sejak kumandang azan Magrib mereda, area utama Masjid Keramat Agung mulai dipadati oleh anak-anak yatim dengan pakaian muslim terbaik mereka, didampingi oleh para lansia dan kaum dhuafa dari lingkungan sekitar. Nuansa acara berjalan dengan susunan sebagai berikut:
Sesi Ba’da Magrib (Pembukaan dan Dzikir)
Acara diawali dengan sholat Magrib berjama’ah yang diimami oleh Ustad H. Muhammad Khusnan. Segera setelah itu, imam mengajak para jama’ah untuk beristigfar dan berdzikir. Imam, diikuti oleh jama’ah, membaca lantunan dzikir “hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannashiir” sebanyak 70 kali. Lantunan dzikir memecah keheningan malam yang mulai dingin akibat guyuran hujan di luar masjid.

Sesi Inti (Do’a Ashura, Sholat Taubat, dan Sholat Hajat)
Setelah berdzikir, imam membaca do’a Ashura sebanyak tujuh kali diikuti oleh para jama’ah. Selanjutnya, imam mengajak para jama’ah untuk melaksanakan sholat taubat dua raka’at dan disambung dengan sholat hajat dua raka’at, di mana pada raka’at pertama setelah membaca surah Al Fatihah, imam dan jama’ah membaca Surah Al Ikhlas sebanyak 15 kali, dan pada raka’at kedua sebanyak sepuluh kali. Pada sujud terakhir para jama’ah memanjatkan do’a/hajatnya masing-masing.

Sesi Ba’da Isya (Penyerahan Santunan)
Tepat setelah sholat Isya berjama’ah, prosesi penyerahan santunan dimulai. Sebelumnya, Ustad Sohibul Hairi–mewakili ketua LAZISNU Masjid Keramat Agung yang saat ini lagi sakit– memberikan sambutan yang berisi ungkapan terimakasih kepada para donatur dan mengajak para agniya untuk selalu mendukung acara sosial semacam ini.

Setelah itu, satu persatu anak yatim maju menerima santunan dan diikuti oleh kaum dhuafa. Mereka menerima paket sembako yang bernilai kurang lebih dua ratus ribu rupiah dengan tertib. Kali ini, LAZISNU Masjid Keramat Agung Malang memberikan sebanyak 55 paket sembako untuk anak yatim dan dhuafa. Acara berlangsung dengan khidmat.



Manfaat Acara Santunan
Bagi anak yatim, bantuan dana tunai yang diterima bisa digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah atau kebutuhan nutrisi harian yang kerapkali sulit untuk terpenuhi. Menjadi seorang yatim sering kali menimbulkan perasaan terisolasi atau berbeda. Kehadiran acara ini, ditambah dengan tradisi mengusap kepala, memberikan pesan emosional yang kuat bahwa mereka tidak sendiri; mereka memiliki komunitas besar yang menyayangi dan melindungi mereka.
Tidak kalah penting, kaum dhuafa, janda tua, dan pekerja informal di sekitar masjid mendapatkan pilar penyangga yang krusial melalui kegiatan ini. Paket sembako yang berisi beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya secara instan mengamankan pasokan pangan dapur mereka untuk beberapa minggu ke depan, membebaskan mereka dari kecemasan biaya konsumsi harian. Dengan adanya bantuan ini, alokasi pendapatan harian mereka yang terbatas dapat dialihkan untuk keperluan mendesak lainnya, seperti biaya kesehatan atau pelunasan listrik.
Penutup: Hujan sebagai Perlambang Keberkahan
Saat acara resmi ditutup sekitar pukul 19.30 WIB, hujan luar ruangan perlahan mereda menjadi gerimis tipis. Namun, kehangatan di dalam Kantor dan dalam Masjid Keramat Agung justru kian memancar. Wajah-wajah lelah para dhuafa berganti dengan senyum syukur, dan tawa kecil anak-anak yatim yang mendekap bingkisan mereka menjadi pemandangan yang menyentuh.
Sinergi antara LAZISNU dan para agniya (donatur) malam itu membuktikan bahwa batasan cuaca tidak akan pernah mampu menghentikan laju aliran kebaikan. Menurut Ustad Kholik Achmadi, selaku Wakil Ketua LAZISNU Masjid Keramat Agung, kegiatan sepuluh Muharram ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan manifestasi nyata dari Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin—menjadi rahmat nyata yang membasuh dahaga sosial masyarakat bawah. Mudah-mudahan acara ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya dan mendapatkan ridho dari Alloh SWT. Aamiin.
