Khatib: Ustad Dr. Abdul Qadir Al Jailani, M.Ag
Bilal: Ustad Kholik Achmadi
Di awal khutbahnya, khatib mengajak para jama’ah untuk bermuhasabah, mengoreksi diri, dan mengetuk hati seraya bertanya sampai sejauh manakah perjalanan ketakwaan kita pada Robbul ‘Izzati, baik yang hablum minallah maupun hablum minannas, baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Khatib menilai hal ini sangat penting karena sebagaimana yang kita maklumi, umur semakin berjalan dan semakin lama manusia semakin menua. Pada hakikatnya, manusia hanya tinggal menunggu panggilan Alloh SWT (kematian) melalui malaikat Izroil as. Dan selanjutnya, manusia akan mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya selama hidup di dunia.
Di awal tahun Hijriah ini, khatib mengajak para jama’ah untuk memperbarui niat dan meningkatkan kadar ketakwaan dengan mengikuti semua petunjuk Alloh SWT dan Rasul-Nya melalui ilmu yang disampaikan oleh para ulama, agar kita diijabah oleh Alloh SWT kebahagiaan di dunia dan di akhirat, dikarenakan usaha kita yang maksimal serta rintihan doa yang tak henti-hentinya.
Menurut khatib, memang tidak mudah untuk meningkatkan ketakwaan, yakni untuk selalu melaksanakan semua perintah Alloh SWT dan menjauhi semua larangan-Nya tanpa kesungguhan hati dan pengorbanan yang maksimal baik dhohir maupun batin. Oleh karenanya, kita perlu untuk selalu memohon agar Alloh SWT senantiasa menolong kita dengan hidayah dan maunah-Nya sehingga kita bisa menetapi jalan-Nya yang lurus.
Berkaitan dengan usaha keras seorang mukmin untuk menjadi mukmin yang bertakwa, khatib mengutip surat Al Ankabut ayat 69 yang artinya, “Dan orang-orang yang berjihad/bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, Kami benar-benar akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Alloh berasama orang-orang yang berbuat baik”.
Sehubungan dengan awal tahun Hijriah, khatib berbicara tentang peristiwa agung hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah menuju Madinah. Pada saat itu, ada seorang sahabat Nabi saw yang ikut berhijrah tetapi bukan karena Alloh SWT, melainkan karena ingin menikahi seorang wanita yang tinggal di kota Madinah. Maka sungguh disayangkan karena hijrahnya tidak bernilai ibadah di sisih Alloh SWT.
Berkenaan dengan niat, khatib mengutip hadits Nabi, dari Amirul Mukminin, Abu Hafshah Umar bin Al Khattab r.a ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Alloh dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia niatkan tersebut”. (HR. Bukhari Muslim)
Oleh karena itu, pada bulan Muharrom ini, khatib mengajak para jama’ah untuk memperbarui niat, yakni niat yang benar-benar murni dalam menghambakan diri kepada Alloh SWT, bukan kepada dunia, uang, pekerjaan, jabatan, atau keluarga. Dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 Alloh SWT berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah/mengabdi kepadaKu”. Maka, kita sebaiknya tidak lupa untuk selalu berniat karena Alloh dalam segala aktifitas baik yang kita lakukan.
Khatib mengakhiri khutbahnya dengan harapan agar Alloh SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya dan memberikan kekuatan kepada kita semua untuk selalu menaati-Nya dan Rasul-Nya, agar kapan pun kita dipanggil oleh-Nya, kita akan kembali dalam kondisi beribadah dan dalam kondisi bermakmum kepada Nabi Muhammad saw dan kembali dalam keadaan khusnul khotimah, serta mendapatkan syafaat beliau kelak di yaumul akhir. Aamiin.
