Mengabdi dalam Sunyi, Menggema dalam Adzan: Dedikasi Pak Joko Asmoro di Masjid Keramat Agung

KOTA MALANG — Setiap sudut Kota Malang selalu menyimpan kisah tentang manusia-manusia tangguh yang hidup dalam kesederhanaan namun kaya akan nilai pengabdian. Salah satu figur tersebut adalah Pak Joko Asmoro, seorang pria yang akrab dipanggil oleh warga sekitar dengan sebutan hangat, “Pak Moyo”. Lahir di jantung Kota Malang pada tanggal 12 Juli 1956, Pak Moyo merupakan representasi asli dari arek Malang. Beliau tumbuh besar dan menetap di kawasan Bareng Tenes, sebuah wilayah yang dikenal dengan keguyuban masyarakatnya yang kental.

Sejak masa mudanya, Pak Moyo dikenal sebagai sosok yang tekun dan penyayang. Salah satu sisi humanis yang melekat pada dirinya hingga hari ini adalah kecintaannya yang mendalam terhadap hewan, khususnya kucing. Di lingkungan rumahnya, suara dengkuran kucing dan langkah kaki kecil hewan berbulu tersebut menjadi bagian dari ritme harian yang menghidupkan suasana. Sifat penyayang binatang ini secara tidak langsung membentuk karakter Pak Moyo menjadi pribadi yang sabar, lembut hati, dan penuh empati—kualitas yang kelak membimbingnya menuju jalan pengabdian yang mulia.

Sebelum mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk rumah ibadah, Pak Moyo meniti kehidupan ekonomi keluarganya dari jalur kuliner. Sejak tahun 2005, beliau bersama sang istri tercinta memutuskan untuk membuka usaha kuliner kecil-kecilan. Menu yang disajikan adalah kuliner khas Jawa Timuran yang digemari banyak orang: nasi campur, rujak cingur, gado-gado, hingga tahu telor. Perjalanan usaha ini tidak instan. Selama bertahun-tahun, Pak Moyo dan istrinya harus merasakan kerasnya berjualan di pinggir jalan, menghadapi terik matahari, debu jalanan, dan ketidakpastian cuaca. Namun, berkat ketelatenan dan cita rasa masakan yang konsisten, usaha tersebut bertahan. Kini, demi kenyamanan dan faktor usia, aktivitas berjualan telah dialihkan sepenuhnya ke rumah mereka, tempat di mana pelanggan setia tetap datang silih berganti menikmati hidangan buatan mereka.

Memulai Pengabdian dari Nol di Masjid Keramat Agung

Tahun 2013 menjadi titik balik spiritual yang sangat penting dalam garis hidup Pak Moyo. Pada tahun tersebut, beliau memutuskan untuk mulai aktif di Masjid Keramat Agung. Langkah awalnya tidak dimulai dari tempat utama di mimbar atau mikrofon adzan, melainkan dari balik layar sebagai seorang marbot—petugas yang bertanggung jawab penuh atas kebersihan dan kenyamanan rumah Allah.

Pada masa-masa awal tersebut, Pak Moyo tidak berjuang sendirian. Beliau bahu-membahu dalam sebuah tim yang solid bersama dua orang sahabat seperjuangannya, yaitu almarhum Pak Sutaji dan almarhum Pak Sutomo. Tugas mereka setiap hari adalah memastikan setiap jengkal lantai masjid bersih dari debu, tempat wudhu bebas dari lumut, dan air kolam yang senantiasa bersih demi kenyamanan ibadah para jamaah.

Bagi Pak Moyo, menjadi marbot bukan sekadar menyapu dan mengepel. Tugasnya mencakup pemeliharaan fisik masjid secara menyeluruh. Ketika ada atap yang bocor di musim hujan, Pak Moyo akan dengan sigap memanjat untuk memperbaikinya. Ketika warna pagar masjid mulai kusam dimakan cuaca, beliau yang memegang kuas untuk mengecat ulang agar masjid selalu tampak indah dan terawat. Dedikasi fisik yang luar biasa ini beliau lakukan dengan penuh keikhlasan, tanpa mengharapkan pujian manusia bersama tim barunya yaitu Pak Tri Wahyudi dan Mas Ardi Suryanto atau kerab dipanggil “Mas Gepe” yang keduanya juga merupakan muadzin Masjid Keramat Agung.

Menggandeng Amanah Menjadi Suara Langit

Kesetiaan dan ketulusan Pak Moyo dalam merawat masjid tidak luput dari perhatian para pengurus takmir. Pada tahun 2015, sebuah tawaran besar datang menghampirinya. Almarhum Pak Sutomo, yang melihat potensi dan keluhuran budi Pak Moyo, menawarkan sebuah tugas baru yang sangat sakral: menjadi muadzin (pemberi seruan adzan).
Tawaran lisan tersebut kemudian diperkuat dan diresmikan secara sah oleh tokoh agama terpandang di lingkungan tersebut, yaitu KH Dahlan Thamrin, selaku penasihat di jajaran takmir Masjid Keramat Agung. Ditunjuk langsung oleh seorang kiai sepuh tentu menjadi amanah sekaligus tanggung jawab moral yang sangat besar bagi Pak Moyo.

Sejak saat itu, suara Pak Moyo resmi menjadi “suara langit” yang memanggil masyarakat Bareng Tenes dan sekitarnya untuk bersujud memuji Sang Khalik. Mengumandangkan adzan membutuhkan disiplin waktu yang sangat ketat. Sebelum adzan berkumandang, Pak Moyo harus sudah berada di masjid untuk bersiap-siap. Transformasi dari seorang marbot yang mengurusi hal-hal fisik di lantai masjid, kini bertambah perannya menjadi seorang muadzin yang menggemakan kalimat-kalimat agung ke udara, menjadikannya pilar penting dalam fungsionalitas ibadah di Masjid Keramat Agung.

Keberkahan Hidup, Keluarga, dan Esensi Pengabdian

Di balik baktinya yang luar biasa di masjid, Pak Moyo adalah seorang kepala keluarga yang berhasil membina rumah tangga yang harmonis. Dari pernikahannya yang penuh berkah, beliau dikaruniai dua orang anak laki-laki yang kini telah tumbuh dewasa. Kebahagiaan keluarga kecil ini semakin lengkap dan sempurna dengan hadirnya seorang cucu laki-laki yang menjadi penyejuk mata bagi Pak Moyo di hari tuanya.

Kisah hidup Pak Moyo memberikan kita cerminan mendalam mengenai banyaknya manfaat—baik secara spiritual, psikologis, maupun sosial—yang didapatkan oleh seseorang yang memilih jalan hidup sebagai marbot dan muadzin masjid:
• Ketenteraman Jiwa (Ketenangan Batin): Kedekatan fisik dan intensitas waktu yang dihabiskan di dalam masjid secara ilmiah dan spiritual menurunkan tingkat stres. Pak Moyo menjalani hari-harinya dengan penuh kedamaian karena hatinya selalu terpaut pada tempat ibadah.
• Keberkahan Ekonomi Khairah: Meskipun hidup dalam kesederhanaan dengan berjualan tahu telor dan rujak, kebutuhan keluarga Pak Moyo selalu tercukupi. Berkah dari merawat rumah Alloh sering kali mewujud dalam bentuk kesehatan yang prima dan usaha rumahan yang terus berjalan lancar.
• Penghormatan Sosial di Mata Masyarakat: Di tengah gempuran nilai-nilai modern yang materialistis, sosok seperti Pak Moyo justru mendapatkan tempat yang sangat terhormat di hati warga. Beliau dikenal sebagai figur penyejuk yang dipercaya dan dihormati oleh seluruh jamaah lintas generasi.
• Investasi Pahala Jariyah yang Abadi: Setiap tetes keringat saat mengecat pagar, setiap sapuan sapu di lantai masjid, dan setiap huruf dari kalimat adzan yang didengar lalu diikuti oleh jamaah yang datang salat, mengalirkan pahala jariyah yang tidak akan terputus, bahkan hingga kelak beliau telah tiada.

Melalui biografi Pak Joko Asmoro, kita belajar bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari tingginya jabatan struktural atau kemewahan materi, melainkan dari seberapa besar konsistensi dan keikhlasan kita dalam memberi manfaat bagi tempat ibadah dan sesama manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

MENJALIN SPIRITUALITAS DAN KESALEHAN SOSIAL: Catatan Kegiatan Istigotsah dan Kajian Hadits ke-15 Al-Arba’in An-Nawawiyyah di Masjid Keramat AgungMENJALIN SPIRITUALITAS DAN KESALEHAN SOSIAL: Catatan Kegiatan Istigotsah dan Kajian Hadits ke-15 Al-Arba’in An-Nawawiyyah di Masjid Keramat Agung

KERAMAT AGUNG — Malam Jumat Legi selalu menempati ruang khusus dalam kesadaran spiritual jamaah Masjid Keramat Agung. Momentum ini bukan sekadar pergantian hari dalam kalender pasaran, melainkan ruang kultural dan