Khutbah Jum’at 12 Juni 2026 Masjid Keramat Agung

Khatib: Ustad Khoirul Anam

Bilal: Ustad M. Ghufron

Khatib mengawali khutbahnya dengan mengajak para jama’ah untuk senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kepada Alloh SWT. Khatib juga mengingatkan para jama’ah bahwa sekecil apapun perbuatan kita (baik atau buruk), semua akan kembali kepada kita, entah dalam bentuk ganjaran/pahala atau dalam bentuk siksa. Dalam hal ini, khatib mengutip salah satu ayat Al Quran, yakni surat Fushshilat ayat 46 yang artinya, “Barangsiapa mengerjakan kebajikan/amal sholeh, maka pahalanya untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat keburukan maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hambaNya”.

Selanjutnya, khatib menyampaikan kandungan hikmah sejarah yang terjadi dalam bulan Dzulhijjah, yang dalam hal ini berkaitan dengan sejarah Nabi Ibrahim as beserta putranya (Nabi Ismail as). Alloh SWT telah memuliakan keluarga dan keturunan Nabi Ibrahim as dengan memberi mereka kitab suci, hikmah (ilmu yang bermanfaat), dan mulkan ‘adzima (kerajaan yang agung), sesuai dengan firman Alloh SWT dalam surat An Nisa ayat 54 yang artinya, “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Alloh kepadanya? Sungguh, Kami telah menganugerahkan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang agung”.

Oleh karena itu, kita seharusnya menjadikan Nabi Ibrahim as dan keturunannya (Nabi Ismail as, Nabi Musa as, Nabi Isa as, dan Nabi Muhammad Saw) sebagai suri tauladan, khususnya bagaimana beliau membangun keluarga yang baik sehingga melahirkan dan mencetak keturunan yang baik. Di antara yang diajarkan Nabi Ibrahim as adalah, yang pertama, tentang kelembutan dalam mendidik keluarganya. Rasulullah pernah bersabda yang artinya,”Apabila Alloh mencintai suatu keluarga, maka Alloh akan menganugerahkan kelembutan kepada keluarga itu”. Hal ini berarti bahwa Alloh SWT menjauhkan keluarga tersebut dari kekerasan, baik mental atau fisik. Oleh karenanya, kita sebagai orang tua harus terus belajar menjadi figur ayah yang baik dan memperlakukan keluarga dengan lemah lembut. Yang kedua, Nabi Ibrahim as juga mengajarkan tentang ketegaran. Bagi orang tua, sikap terlalu memanjakan anak adalah justru tidak baik karena bisa melemahkan mental mereka. Orang tua harus tegar serta berani merelakan anak ketika mereka sedang belajar/menuntut ilmu di tempat yang jauh, atau saat mereka bersusah payah dalam belajar dan mencari pekerjaan, karena semua adalah untuk kebaikan mereka. Yang ketiga, Nabi Ibrahim as mengajarkan tentang kebijaksanaan dalam mendidik keluarga. Sebagai orang tua, kita seharusnya tidak memaksa anak menuruti semua keinginan kita. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan, karena tiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

khatib mengakhiri khutbahnya dengan harapan agar kita semua dianugerahi anak yang soleh soleha, sabar, memiliki hikmah/ilmu yang bermanfaat, serta diberikan kesuksesan di dunia dan akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post