Khatib: Ustad Muhammad Lutfi
Bilal: Ustad Saiful Bahri
KERAMAT AGUNG — Ustad Muhammad Lutfi mengawali khutbahnya dengan wasiat takwa. Sebuah wasiat yang selalu diulang-ulang, yaitu bertakwalah kepada Alloh. Kalimat ini, lanjut khatib, terlihat sederhana namun maknanya begitu dalam, sebab wasiat takwa bukan sekedar formalitas ibadah, melainkan sebuah bentuk kasih sayang yang mengingatkan kita semua sebelum raga ini terbujur kaku di dalam kubur, sebelum kain kafan membungkus tubuh kita, pastikan hati kita tunduk kepada Alloh SWT. Takwa adalah bekal yang terbaik yang akan kita bawa pulang menghadap Sang Khalik.
Khatib menyampaikan bahwa dunia tempat kita tinggal hari ini seringkali terasa sangat melelahkan. Banyak di antara kita yang mencari nafkah dengan cucuran keringat, menahan lapar, dan menyembunyikan kesedihan di balik senyuman. Di tengah kerasnya kehidupan, memberi dan bersedekah adalah suasana yang tentu menyejukkan. Namun mari kita cermati bersama, apakah kita terjebak pada cara kita memberi. Kita merasa telah berbuat baik dengan mengulurkan tangan, tetapi tanpa sadar lisan kita justru menggoreskan luka di hati orang yang menerima. Maka dari sini, lanjut khatib, kita perlu menatap kembali cermin dari akhlak Rasulullah SAW, seorang manusia yang mengajari kita cara memberi tanpa menyakiti, mengulurkan bantuan tanpa meruntuhkan kehormatan.
Selanjutnya, khatib mengutip sebuah ayat dari al Quran. Alloh SWT mengingatkan kita di dalam Al Quran QS Al Baqarah ayat 263 yang artinya: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebik baik daripada sedekah yang diiringi dengan tindakan yang menyakiti. Alloh Maha Kaya lagi Maha Penyantun“. Menurut khatib, ayat ini merupakan tamparan halus bagi jiwa kita. Alloh menegaskan bahwa kata-kata yang santun dan penolakan yang halus manakala kita belum bisa memberi adalah jauh lebih mulia di sisih Alloh SWT, daripada sekeranjang bantuan yang setelahnya diungkit-ungkit atau diberikan dengan wajah yang masam. Tangan yang di atas (memberi) memang mulia, tetapi ia akan kehilangan cahayanya jika ia mengulurkan bantuan sambil menginjak harga diri yang ada di bawah.
Selanjutnya khatib mengajak para jamaah untuk membayangkan sebuah peristiwa yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari, yaitu ketika seorang pengemis atau pedagang kecil mengetuk pintu rumah kita, atau mendekati kaca mobil kita di lampu merah, seringkali karena merasa kesal kita mengibaskan tangan dengan kasar atau memberikan uang receh dengan cara dilempar tanpa menatap wajahnya. Bayangkan jika posisi itu ditukar. Bayangkan jika pengemis itu adalah ayah kita atau ibu kita, atau anak kandung kita sendiri yang sedang terdesak kebutuhan hidup, betapa hancurnya hati kita. Uang yang kita berikan mungkin bisa digunakan untuk membeli sesuap nasi untuk hari itu, tetapi luka di hati mereka akibat pandangan merendahkan dari kita akan membekas dalam waktu yang sangat lama.
Khatib selanjutnya mengisahkan sebuah kisah teladan dari baginda Rasulullah SAW, bagaimana beliau mencontohkan dalam hal ini. Beliau adalah manusia yang hatinya paling lembut. Dalam sebuah hadits shohih yang diriwayatkan oleh imam muslim, sahabat Anas bin Malik r.a mengisahkan keluhuran budi pekerti baginda Nabi, beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah SAW diminta sesuatu atas nama Islam, melainkan beliau pasti memberinya.” Ada kisah lain yang sangat masyhur tentang bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan seorang Arab Badui. Suatu hari seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah SAW yang sedang berjalan ke masjid, ia lalu menarik burda yang dipakai Rasulullah dengan sangat keras hingga membekas merah di leher suci beliau. Orang Badui itu berteriak dengan kasar, “Wahai Muhammad, berikan kepadaku harta Alloh yang ada padamu!” Lantas, bagaimana respon manusia yang agung ini, apakah beliau marah, ataukah beliau memerintah sahabat untuk memukulnya? Tidak. Justru beliau menoleh ke arah orang Badui tersebut, memandangnya dengan wajah tersenyum tulus. Lalu memerintahkan para sahabat untuk memberikan sejumlah harta kepadanya. Rasulullah SAW tidak melihat kebesaran orang tersebut sebagai alasan untuk menyakitinya kembali, namun beliau memberi dengan kelapangan dada. Menjaga agar orang yang meminta tersebut pulang dengan tidak hanya membawa harta tetapi membawa pula hidayah dan kedamaian di hatinya.
Lanjut khatib, para ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam menjaga perasaan orang miskin. Salah seorang ulama besar tabi’in berkata, “Jika engkau didatangi seorang miskin mengetuk pintumu, maka tersenyumlah, karena sesungguhnya dia adalah utusan Alloh yang datang untuk mensucikan hartamu.” Ketika kita memberi, sejatinya kitalah yang butuh kepada mereka, bukan mereka yang butuh kepada kita. Mereka adalah jalan bagi kita untuk mengetuk pintu surga Alloh, maka pantaskah kita menyakiti orang yang sedang membukakan jalan surga untuk kita.
Penutup
Pada akhir khutbahnya, khatib mengajak para jamaah untuk sejenak bertafakur, menengok ke dalam diri kita masing-masing, betapa banyak kebaikan yang sudah kita lakukan namun kita hancurkan sendiri pahalanya karena kesombongan kita. Berapa kali kita mengungkit bantuan yang pernah kita berikan kepada saudara kita, teman kita, tetangga kita, kerabat kita, atau mungkin kepada pasangan atau anak kita sendiri, saat kita berkata, “Kalau bukan karena bantuan saya waktu itu, kamu tidak akan jadi seperti sekarang.” Di detik itulah pahala bantuan/amal kita gugur, terbang bagai debu yang ditiup angin kencang.
Ada seorang ulama mengatakan bahwa pahala suatu pemberian bisa dicatat dalam sekejap, namun ia juga bisa terhapus dalam sedetik akibat lisan yang mengungkit pemberian tersebut. Ingatlah bahwa suatu hari nanti kita semua akan berdiri di hadapan Alloh SWT tanpa membawa harta kekayaan kita. Kita hanya akan membawa amal soleh. Sungguh sebuah kerugian yang amat besar jika di akhirat nanti kita mendapati pahala sedekah kita kosong hanya karena kita tidak mampu menjaga perasaan orang lain ketika di dunia.
Semoga Alloh SWT membuka hati kita, mengampuni dosa-dosa kita yang sering menyakiti sesama tanpa kita sadari. Maka mulai hari ini, mari kita berjanji pada diri kita sendiri, jika kita mampu memberi, berikanlah dengan senyuman terbaik dan penghormatan yang tinggi. Namun jika kita belum mampu memberi, maka tolaklah dengan bahasa yang santun dan iringan doa yang tulus.
